//
you're reading...
Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman 1

Semester 2. Penerapan Pertanian Organik di Lahan Kritis dengan Memanfaatkan Mikoriza.

PENGERTIAN LAHAN KRITIS  DAN PERTANIAN ORGANIK

Lahan Kritis adalah Lahan yang tidak produktif akibat tingkat erosi yang kuat (Gully Erosion), vegetasi penutup lahan sangat kecil dan tidak memungkinkan untuk diusahakan sebagai lahan pertanian tanpa usaha merehabilitasi terlebih dahulu atau merupakan lahan yang keadaan fisiknya demikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukkannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air.

Ciri-ciri utama lahan kritis adalah lahan yang gundul, berkesan gersang, dan bahkan muncul batu-batuan di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit atau berlereng curam. Selain itu lahan kritis juga memiliki tingkat produktivitasnya rendah dan vegetasi alang-alang yang mendominasinya dengan sifat-sifat lahan yang memiliki pH tanah relatif rendah.

Meluasnya lahan kritis tidak dapat dilepaskan dari beberapa hal, antara lain

(i)                  tekanan penduduk yang tinggi akan lahan,

(ii)                perladangan berpindah,

(iii)               padang penggembalaan yang berlebihan, (

(iv)              pengelolaan hutan yang tidak baik, dan

(v)                pembakaran yang tidak terkendali. Fujisaka dan Carrity (1989) mengemukakan bahwa masalah utama yang dihadapi di lahan kritis antara lain adalah lahan mudah tererosi, tanah bereaksi masam dan miskin unsur hara.

Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida.

Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2: Kriteria Lahan Kritis Kawasan Budidaya Untuk Usaha Pertanian

No.

Kriteria

(% bobot)

Kelas

Besaran/Diskripsi

Skor

Keterangan

1

Produktivitas *)

(30)

1.        Sgt. Tinggi

2.        Tinggi

3.        Sedang

4.        Rendah

5.        Sgt. Rendah

>80%

61 – 80 %

41 – 60 %

21 – 40 %

<20 %

5

4

3

2

1

Dinilai berdasarkan ratio terhadap produksi komoditi umum optimal pada pengelolaan tradisional

2

Lereng

(20)

1.     Datar

2.     Landai

3.     Agk. Curam

4.     Curam

5.     Sgt. Curam

<8 %

8 – 15 %

16 – 25 %

26 – 40 %

>40 %

5

4

3

2

1

3

Erosi

(15)

1.        Ringan

2.        Sedang

3.        Berat

4.        Sgt. Berat

Tanah dalam     :  <25% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak 20 – 50 m

Tanah dangkal :   <25% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak >50 m

Tanah dalam     :    25 – 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak kurang dari 20 m

Tanah dangkal   :   25–50% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur dengan jarak 20-50 m

Tanah dalam      :    Lebih dari 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi parit dengan jarak  20-50 m

Tanah dangkal    :   50 – 75 % lapisan tanah atas hilang

Tanah dalam       :   Semua lapisan tanah atas hilang >25 % lapisan tanah bawah dan/atau erosi parit dengan kedalaman sedang pada jarak kurang dari 20 m

Tanah dangkal  :  >75 % lapisan tanah atas telah hilang, sebagian lapisan tanah bawah telah tererosi

5

4

3

2

4

Batu – batuan

(5)

1.        Sedikit

2.        Sedang

3.        Banyak

< 10 % permukaan lahan tertutup batuan

10 – 30 % permukaan lahan tertutup batuan

>30 % permukaan lahan tertutup batuan

5

3

1

5

Manajemen

(30)

1.        Baik

2.        Sedang

3.        Buruk

–          Penerapan teknologi konservasi tanah lengkap dan sesuai petunjuk teknis

–          Tidak lengkap atau tidak terpelihara

–          Tidak ada

5

3

1

 

Hasil Inventarisasi Lahan Kritis Pada Lahan Kawasan lahan Budidaya Pertanian *)

No

Propinsi

Luas Lahan Kritis

Total Luas
(Ha)

Sangat Kritis

Kritis

Agak Kritis

Potensial Kritis

1 D.I. Aceh

       5.777,00

320.248,13

 96.738,29

   437.896,51

860.659,93

2 Sumatera Utara

                      –

         70.680,00

       217.349,00

         134.812,00

         594.157,54

3 Sumatera Barat

                      –

                      –

                      –

                        –

             112.304

4 Riau

                      –

       254.822,00

       861.669,00

      3.445.625,00

           4.562.116

5 Jambi

                      –

                      –

                      –

                        –

         544.100,64

6 Sumatera Selatan

                      –

                      –

                      –

                        –

           2.278.661

7 Bengkulu

       160.563,00

       339.256,00

       286.319,00

         259.221,00

           1.045.359

8 Lampung

                      –

                      –

                      –

                        –

         152.885,15

9 Jawa Barat

                      –

                      –

                      –

                        –

         362.827,97

10 Jawa Tengah

         37.432,00

       223.954,00

       327.368,00

         293.836,00

         982.920,50

11 D.I. Yogyakarta

         18.160,00

         15.758,00

         42.051,00

           46.484,00

             122.453

12 Jawa Timur

                      –

                      –

                      –

                        –

         953.211,31

13 Kalimantan Barat

                      –

                      –

                      –

                        –

      1.811.003,87

14 Kalimantan Tengah

                      –

                      –

                      –

                        –

           1.708.181

15 Kalimantan Selatan

                      –

                      –

                      –

                        –

             221.602

16 Kalimantan Timur

                      –

                      –

                      –

                        –

             824.968

17 Sulawesi Utara

                      –

                      –

                      –

                        –

             318.861

18 Sulawesi Tengah

                      –

                      –

                      –

                        –

         153.151,49

19 Sulawesi Tenggara

                      –

                      –

                      –

                        –

             188.059

20 Sulawesi Selatan

                      –

                      –

                      –

                        –

         451.505,30

21 Bali

           1.675,00

         21.797,00

         61.413,00

           94.611,00

             179.496

22 NTT

                      –

                      –

                      –

                        –

           1.057.466

23 NTB

                      –

                      –

                      –

                        –

             224.177

24 Maluku

                      –

                      –

                      –

                        –

             514.875

25 Irian Jaya

                      –

                      –

                      –

                        –

           1.719.594

  Jumlah

       223.607,00

     1.246.515,13

     1.892.907,29

      4.712.485,51

     21.944.595,70

Keterangan : Total luas yang tidak terbagi dalam 4 kriteria lahan kritis,
digolongkan ke dalam Lahan kritis sampai  dengan lahan sangat kritis
*) Tidak termasuk DKI Jakarta
Sumber : Departemen Kehutanan dan Perkebunan tahun 2000

 

 

 

 

 

PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK PADA LAHAN KRITIS

PEMANFAATAN MIKORIZA

2.1. Pengertian

Mikoriza adalah suatu bentuk asosiasi simbiotik antara akar tumbuhan tingkat tinggi dan miselium cendawan tertentu. Nama mikoriza pertama kali dikemukakan oleh ilmuwan Jerman Frank pada tanggal 17 April 1885. Tanggal ini kemudian disepakati oleh para pakar sebagai titik awal sejarah mikoriza. Nuhamara (1993) mengatakan bahwa mikoriza adalah suatu struktur yang khas yang mencerminkan adanya interaksi fungsional yang saling menguntungkan antara suatu autobion/tumbuhan tertentu dengan satu atau lebih galur mikobion dalam ruang dan waktu. Struktur yang terbentuk dari asosiasi ini tersusun secara beraturan dan memperlihatkan spektrum yang sangat luas, baik dalam hal tanaman inang, jenis cendawan maupun penyebaranya. Mikorisa tersebar dari artictundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan yang melibatkan 80% jenis tumbuhan yang ada.

Berdasarkan struktur tubuh dan cara infeksi terhadap tanaman inang, mikoriza dapat digolongkan menjadi 2 kelompok besar (tipe) yaitu ektomikoriza dan endomikoriza (Rao, 1994). Namun ada juga yang membedakan menjadi 3 kelompok dengan menambah jenis ketiga yaitu peralihan dari 2 bentuk tersebut yang disebut ektendomikoriza. Pola asosiasi antara cendawan dengan akar tanaman inang menyebabkan terjadinya perbedaan morfologi akar antara ektomikoriza dengan endomikoriza. Pada ektomikoriza, jaringan hipa cendawan tidak sampai masuk kedalam sel tapi berkembang diantara sel kortek akar membentuk “hartig net dan mantel dipermukaan akar. Sedangkan endomikoriza, jaringan hipa cendawan masuk kedalam sel kortek akar dan membentuk struktur yang khas berbentuk oval yang disebut vesicle dan sistem percabangan hipa yang disebut arbuscule, sehingga endomikoriza disebut juga vesicular-arbuscular micorrhizae (VAM)

Perkembangan Mikoriza di Daerah Tropis

Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik, tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata, 1995). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya, cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al, 1998). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis.

Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest), dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi, khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurang keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan, karena perubahan spesies tanaman, jumlah bahan organik yang dihasilkan, unsur hara dan struktur tanah. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan, pembakaran, kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa

Praktek pertanian seperti pengolahan tanah, cropping sistem, ameliorasi dengan bahan organik, pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz, 1995). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hipa ekternal cendawan mikoriza. Penelitian McGonigle and Miller (1993), menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Dalam budidaya tradisional, pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao, 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller, 1993) berpengaruh negatif terhadap pembentukan mikoriza. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida.

III. MIKORIZA DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai ‘biofertilization”, baik untuk tanaman pangan, perkebunan, kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham, 1994). Bagi tanaman inang, adanya asosiasi ini, dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah, meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Sedangkan secara langsung, cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air, hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu :

  1. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah
  2. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar.
  3. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim
  4. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin.
  5. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis.

Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman, Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah “relatif field mycorrhizal depedency” (RFMD) :

RFMD =     [ (BK. tanaman bermikoriza – BK. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 %

Namun demikian, respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan, tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara, pH, kadar air, temperatur, pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial, spesies cendawan, tanaman inang, tipe perakaran tanaman inang, dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Adanya kolonisasi mikoriza tapi respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata, 1995).

Perbaikan Struktur Tanah. Cendawan mikoriza melalui jaringan hipa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida, asam organik dan lendir oleh jaringan hipa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. “Organic binding agent” ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Kemudian agregat mikro melalui proses “mechanical binding action” oleh hipa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hipa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hipa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit.

Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik, lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi, namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah.. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman, tapi juga bagi tanah.

Serapan Air dan Hara. Jaringan hipa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Disamping itu ukuran hipa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hipa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham, 1994). Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza, juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N, K dan S. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Disamping serapan hara melalui aliran masa, serapan P yang tinggi juga disebabkan karena hipa cendawan juga mengeluarkan enzim phosphatase yang mampu melepaskan P dari ikatan-ikatan spesifik, sehingga tersedia bagi tanaman.

Mikorisa juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikorisa dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al,1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor, 1999). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N, B. japonicum.

PERANAN MIKORIZA PADA PERBAIKAN LAHAN KRITIS

4.1. Lahan Alang-Alang

Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau besar lainnya. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam, miskin hara dan bahan organik, kejenuhan Al tinggi. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp., Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun ,1997). Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut, tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan, serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0,18 mgP/tan menjadi 2,15 mg P/tan., sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0,02 g biji/tan. menjadi 5,13 g biji /tan. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0,13 mg P/tan. menjadi 2,66 mg P/tan, dan hasil kedelai meningkat dari 2,84 g biji/tan menjadi 5,98 g biji/tan. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al, 1997).

Disamping untuk tanaman pangan, penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak, persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat, infiltrasi air hujan rendah, sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.

Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK (Tabel 2). Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air (Tabel 3)

Tabel 1. Perubahan konsentrasi N, P, K daun , tinggi tanaman dan berat kering total tanaman A. africana sebagai respon atas kolonisasi ECM ( Ba et al, 1999).

  N P K Tinggi

(cm)

TDW

(g)

A. africana Nazinga          
Scleroderma dictyosporum IR.109 1,96 d 0,11 bc 1,41 c-e 41,97 b 7,81 ab
Scleroderma sp.1 IR.406 2,33 ab 0,09 c 2,12 a 44,96ab 7,73 ab
Scleroderma sp.2 IR.408 1,94 d 0,14 a 1,66 bc 47,78ab 9,00 a
Fungal isolat ORS.XM002 1,85 d 0,10 bc 1,45 cd 42,75 b 9,10 a
Control 2,02 cd 0,10 bc 1,02 e 38,98 b 6,15 b
A. africana Diatock          
Scleroderma dictyosporum IR.109 2,03 cd 0,13 ab 1,55 c 46,85ab 6,34 b
Scleroderma sp.1 IR.406 2,28 a-c 0,10 bc 2,05 ab 47,80ab 6,95 ab
Scleroderma sp.2 IR.408 2,54 a-c 0,11 bc 2,11 a 52,40 a 7,03 ab
Fungal isolat ORS.XM002 2,08 b-d 0,12 a-c 1,80 a-c 52,78 a 8,18 ab
Control 1,90 d 0,10 bc 1,13 de 52,60 a 6,33 b

Keterangan : TDW = total dry weight

Tabel 2. Potensial air, net fotosintesis dan kadar hara pada tanaman H. almeriense yang dinokulasi dengan T. claveryi dibawah kondisi normal dan stres air. ( Morte et al, 2000).

Tanaman Perlakuan Potensial air (Mpa) Net Foto sintesis* Kadar hara tanaman (%)
N P K Na
Cukup air Kontrol – 1,22 c 8,51 b 1,03 a 0,13 a 0,67 a 0,07 a
T. claveryi – 1,04 d 13,1 c 1,09 a 0,14 a 0,83 b 0,04 a
Stres air Kontrol – 1,94 a 4,79 a 0,99 a 0,15 a 0,71 a 0,05 a
T. claveryi – 1,44 b 9,01 b 1,32 b 0,18 b 0,92 b 0,06 a

Tabel 3. Hasil biomass tanaman pepaya yang diinokulasi Gigaspora margarita (AM) dan tanpa inokulasi (Non AM) dibawah kondisi irrigasi dan stress air (Cruz et al, 2000)

Perlakuan Hasil Biomass Pepaya (gram)
Irrigated Water Stress
  RFW TFW RFW TFW
Non AM 55,2 99,4 44,0 75,8
AM 85,9 141,1 66,4 119,6

Keterangan : RFW = root fresh weight TFW = Total fresh weight

KESIMPULAN

Lahan Kritis adalah Lahan yang tidak produktif akibat tingkat erosi yang kuat (Gully Erosion), vegetasi penutup lahan sangat kecil dan tidak memungkinkan untuk diusahakan sebagai lahan pertanian tanpa usaha merehabilitasi terlebih dahulu

Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida.

Hubungan antara lahan Kritis dan Pertanian Organik bisa dilihat bahwa penanggulangan lahan kritis dapat menggunakan Sistem Pertanian Organik yaitu pemanfaatan Mikoriza untuk perbaikan tanah antara lain : Cendawan mikoriza melalui jaringan hipa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida, asam organik dan lendir oleh jaringan hipa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. “Organic binding agent” ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Kemudian agregat mikro melalui proses “mechanical binding action” oleh hipa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hipa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hipa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

sumber : http://tumoutou.net/702_04212/igm_subiksa.htm

Aggangan, N.S. B.Dell and N. Malajczuk, 1998. Effects of chromium and nickel on growth of the ectomycorrizal fungus Pisolithus and formation of ectomycorrizas on Eucalyptus urophylla S.T. Blake. Geoderma 84 : 15-27.

Ali, G.M., E.F. Husin, N. Hakim dan Kusli, 1997. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. p. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Prosiding Kongres Nasional VI HITI, Jakarta, 12-15 Desmber 1995.

Al-Kariki, G.N., 2000. Growth of mycorrhizal tomato and mineral acquisition under salt stress. Mycorrhiza J. 10/2 : 51-54.

Azcon, R. and F. El-Atrash, 1997. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth, nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Biol. Fertil. Soils 24 : 81-86.

Ba, A.M., K.B. Sanon , R. Doponnois, and J. Dexheimer, 2000. Growth response of Afselia africana Sm. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Mycorrhiza J. 9/2 : 91-95.

Castillo, E.T. and R.E. Dela Cruz, 1995. Mechanism of drought resistance in Pterocarpus indicus enhanced by inoculation with VA mycorriza and Rhizobium. Biotrop Spec. Publ.No56 : 131-137. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.

Cruz, A.F., T. Ishii, and K. Kadoya., 2000. Effect of arbuscular mycorrhizal fungi on tree growth, leaf water potential, and levels of 1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid and ethylene in the roots of papaya under water stress conditions. Mycorrhiza J. 10/3 : 121-123.

Fleibach, A.R. Martens and H.H. Reber, 1994. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Soil Biol. Biochem. 26 (9) : 1201 – 1205.

http. www.google.com / Lahan Kritis

http.www.google.com / Pertanian Organik

http.www.google.com / Penanggulangan Lahan Kritis Melalui Pertanian Organik

 

About bondaneddyana

Menyukai membuat laporan, presentasi kegiatan atau laporan, penghitungan data - data

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: