//
you're reading...
Sistem Agribisnis

Semester 2. Peranan Bank Indonesia dalam Pengembangan Manisan Pala.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Tanaman pala (Myristica fragrans houtt) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda dan Maluku. Tanaman pala dikenal dengan tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomis. Hasil tanaman pala yang biasa dimanfaatkan adalah buah pala. Buah pala terdiri dari daging buah (77,8%), fuli (4 %), tempurung (5,1%) dan biji (13,1%). Bagian buah yang bernilai ekonomi cukup tinggi adalah biji pala dan fuli (mace) yang dapat dijadikan minyak pala. Daging buah pala dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi manisan pala, asinan pala, dodol pala, selai pala dan sirup pala.

Indonesia merupakan negara pengekspor biji pala dan fuli terbesar dipasaran dunia (sekitar 60%), dan sisanya dipenuhi dari negara lainnya seperti Grenada, India, Srilangka dan Papua New Guinea. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan (2000) produksi pala Indonesia tahun 2000 adalah sebesar 19,95 ribu ton. Produksi pala relatif stabil dan cenderung meningkat sejak tahun 1994 yang berkisar antara 19,00 -19,95 ribu ton per tahun.

Daging buah pala yang merupakan bagian terbesar dari hasil panen buah pala merupakan suatu potensi bahan baku yang sangat besar untuk dapat dimanfaatkan. Salah satu upaya pemanfaatan daging buah pala adalah pembuatan manisan pala, yang umumnya dilaksanakan oleh usaha kecil rumah tangga. Untuk itu pemberdayaan usaha kecil ini perlu terus ditingkatkan. Melalui pemberdayaan usaha kecil manisan pala ini, diharapkan produk manisan pala juga dapat menjadi komoditi ekspor Indonesia mengiringi ekspor biji, fuli dan minyak pala.

Dalam upaya pengembangan usaha kecil terdapat beberapa kendala baik dari sisi usaha kecil sendiri, maupun dari sisi perbankan sebagai lembaga penyedia modal. Kendala dari sisi usaha kecil antara lain kurangnya akses terhadap pembiayaan dari bank karena ketidakmampuan usaha kecil untuk memenuhi persyaratan dari bank seperti kurangnya jaminan dan perizinan, keterbatasan dalam aspek pemasaran, teknis produksi dan manajemen.

Di lain pihak, disisi perbankan menghadapi kendala berupa kurangnya perangkat organisasi dan sumber daya manusia yang berpengalaman dalam melayani dan membina usaha kecil, tingginya resiko dan kurangnya informasi tentang komoditi yang dihasilkan usaha kecil yang layak dibiayai perbankan. Kurangnya informasi ini dapat mengakibatkan pengajuan kredit oleh usaha kecil kepada bank tidak disetujui karena bank tidak memiliki pengetahuan/informasi mengenai pembiayaan terhadap komoditi tersebut yang mempunyai potensi tinggi untuk dibiayai bank.

Dalam rangka meningkatkan akses bank terhadap usaha kecil, Bank Indonesia telah melaksanakan bantuan teknis kepada bank baik berupa pelatihan, penelitian maupun konsultansi. Dalam rangka memberikan informasi kepada bank mengenai pola-pola pembiayaan terhadap komoditi tertentu yang memenuhi persyaratan bank secara teknis, menguntungkan bagi bank dan usaha kecil yang dibiayai, maka Bank Indonesia telah melaksanakan suatu kajian pra kelayakan

POLA PEMBIAYAAN

Dalam memenuhi kebutuhan modal usaha pembuatan manisan pala disamping modal sendiri sebagian pengusaha ada yang memanfaatkan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank, ada pula pengusaha yang meminjam dari pedagang atau sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap pengusaha manisan pala di wilayah survei (Nugraha, D.R, 1995 ), bahwa dari 30 pengusaha manisan pala, sebanyak 4 pengusaha (13,3%) pernah meminjam modal ke Bank, 5 pengusaha (16,7%) meminjam modal ke KUD, dan sebanyak 16 pengusaha (53.33%) meminjam modal dari pedagang atau sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar serta sisanya (16,7%) menggunakan modal usaha pribadi. Bagi pengusaha yang modal kerjanya meminjam dari sesama pengusaha atau dari pedagang, pembayarannya dilakukan setelah diperoleh hasil penjualan produk manisan pala.

Berdasarkan pengamatan di wilayah survei, pengusaha manisan pala yang relatif maju adalah mereka yang memiliki persediaan modal kerja yang lebih dari satu kali periode produksi atau cukup untuk satu bulan kerja. Diantara pengusaha manisan pala yang tergolong maju ada yang pernah memperoleh pinjaman dari bank. Pengusaha yang bersangkutan telah memulai usaha sejak tahun 1980 dan sudah beberapa kali mendapat pinjaman dari bank, mulai dari pinjaman pertama sekali sebesar Rp 75.000 sampai dengan diberi kepercayaan oleh bank untuk mendapatkan dana pinjaman sebesar Rp 22 juta dan sudah dapat dilunasi. Saat ini usaha yang dijalankan mampu menggunakan dana sendiri.

Bank yang menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil umumnya terdapat di lokasi penelitian dengan status Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu. Diantara beberapa Bank yang beroperasi di wilayah penelitian, baru satu bank yang ditemui memberikan pinjaman terhadap usaha kecil manisan pala.

Bank pemberi kredit sebagai kantor cabang pembantu telah menyalurkan kredit sejak tahun 1990. Sampai saat ini melalui kantor cabang pembantu bank tersebut telah membiayai sebanyak 10 unit usaha manisan pala. Dari jumlah tersebut 50% diantaranya merupakan pengusaha murni manisan pala dan 50% lainnya juga memiliki usaha lain disamping usaha manisan pala. Jumlah kredit yang disalurkan bervariasi mulai Rp 1 juta sampai dengan Rp 22 juta dengan jangka waktu pinjaman 1-2 tahun yang dicicil setiap bulannya. Dari sejumlah pinjaman yang telah disalurkan kepada usaha kecil manisan pala, sebanyak 75% diantaranya dinilai baik dalam pengembalian.

Berdasarkan informasi pihak perbankan, kebutuhan dana pinjaman bagi para pengusaha manisan pala sepenuhnya berasal dari dana intern bank. Motivasi bank dalam membiayai kegiatan ini adalah karena sejak awal bank memang telah memiliki komitmen untuk memberdayakan usaha kecil, disamping juga usaha manisan pala merupakan usaha yang layak untuk dibiayai bank serta menguntungkan.

Jenis kredit yang disediakan bank meliputi kredit investasi dan kredit modal kerja. Plafon pinjaman untuk kedua jenis kredit tersebut sebesar Rp 50 juta, dengan tingkat suku bunga sebesar 2% per bulan. Jangka waktu pengembalian maksimal 36 bulan untuk kredit investasi dan 24 bulan untuk kredit modal kerja. Persyaratan penyediaan dana sendiri dari pemilik usaha adalah sebesar 30%, namun hal ini tidak mengikat, apabila usaha dinilai layak untuk dibiayai.

Dalam penyaluran pinjaman kepada usaha kecil ini secara umum bank mengharuskan adanya jaminan berupa sertifikat tanah/bangunan tempat usaha, atau girik, atau Tabungan/deposito atau kombinasi diantara jaminan yang disebutkan.

Prosedur bagi calon debitur yang berminat untuk menambah modal usaha melalui dana pinjaman dari bank sangat mudah. Calon debitur dapat langsung datang ke kantor cabang pembantu yang terdekat untuk mengajukan permohonan kredit. Selanjutnya bank akan meneliti usaha yang telah berlangsung dengan melakukan penilaian terhadap 5 C yaitu: Character (watak calon debitur), Capacity (kemampuan), Capital (permodalan), Collateral (jaminan), dan Condition (kondisi).

Apabila dinyatakan layak maka bank meminta agar calon debitur melengkapi beberapa persyaratan yang diperlukan. Persyaratan yang perlu dilengkapi adalah SIUP atau keterangan dari kelurahan, fotokopi KTP suami dan istri, Kartu Keluarga, sertifikat tanah/bangunan serta SPPT PBB tahun terakhir. Apabila persyaratan kredit telah terpenuhi maka maksimum dalam waktu 2 minggu bank sudah memberikan hasil penilaian.

ASPEK KEUANGAN

  1. 1.       KOMPONEN DAN STRUKTUR BIAYA

Analisa aspek keuangan ini dilakukan untuk melihat kelayakan pembiayaan dalam menjalankan usaha pembuatan manisan pala. Analisa aspek keuangan ini dilakukan berdasarkan hasil pengamatan terhadap komponen biaya dan struktur modal dari beberapa sampel usaha manisan pala yang telah berjalan, termasuk diantaranya yang pernah mendapat pinjaman dana kredit dari bank dengan tingkat suku bunga 22%.

Skala usaha yang digunakan dalam perhitungan sebagaimana yang disebutkan pada aspek teknis produksi adalah skala usaha dengan kapasitas produksi 300 kg manisan pala kering dan 150 kg manisan pala basah setiap periode produksi atau total produksi sebesar 2.250 kg manisan pala per bulan. Beberapa asumsi yang digunakan dalam Analisa aspek keuangan usaha ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Asumsi Teknis Analisa Finansial Usaha Pembuatan Manisan Pala

No.

Uraian

Jumlah

Satuan

1.

Periode Produksi pala kering per bulan

6

kali perbulan

2.

Periode Produksi pala basah per bulan

3

kali perbulan

3.

Lama periode produksi pala kering

5

Hari

4.

Lama periode produksi pala basah

10

Hari

5.

Produksi pala kering per periode

300

Kg

6

Produksi pala basah perperiode

150

Kg

7.

1 kg pala kering

16

Buah pala

8.

1 kg pala basah

20

Buah pala

9.

Bahan baku pala per periode :

 

– bahan baku untuk pala kering

4.800

Buah pala

– bahan baku untuk pala basah

3.000

Buah pala

10.

Hasil Samping :

 

Hasil biji per 500 pala

1

kg biji kering

Hasil fuli per 500 pala

0,1

kg fuli (cempra)

Persentase terkumpul biji dan fuli

60 %

 

11.

Bulan kerja efektif per tahun

10

Bulan

12.

Harga Jual

 

a. Harga jual Pala Kering

7.000

Rupiah/Kg

b. Harga jual Pala Basah

7.000

Rupiah/Kg

c. Harga jual biji kering

35.000

Rupiah/Kg

d. Harga jual fuli

65.000

Rupiah/Kg

13.

Bunga kredit

22

%

14.

Jangka waktu kredit Investasi

3

Tahun

15.

Jangka waktu kredit Modal kerja

1

Tahun
       
Data Primer (2001

 

Komponen biaya usaha pembuatan manisan pala terdiri dari biaya investasi dan biaya modal kerja. Biaya investasi terdiri dari biaya pembuatan bangunan dan pengadaan peralatan produksi. Adapun biaya modal kerja merupakan biaya untuk operasional produksi yang terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap.

BiayaInvestasi
Total biaya investasi untuk usaha pembuatan manisan pala adalah sebesar Rp 22.755.000 yang terdiri dari biaya investasi untuk bangunan proyek sebesar Rp 20.750.000 dan untuk pengadaan peralatan sebesar Rp 2.005.000 .

Biaya Produksi
Biaya produksi untuk pembuatan manisan pala terdiri dari biaya produksi langsung (biaya variabel) dan biaya overhead (biaya tetap).
2.1. Biaya Produksi Langsung (Biaya Variabel)
Biaya variabel merupakan biaya pengadaan bahan baku berupa buah pala mentah, bahan penolong, biaya kemasan serta upah tenaga kerja harian. Biaya variabel pembuatan manisan pala dalam proyek ini terdiri dari biaya untuk pembuatan manisan pala kering dan biaya untuk pembuatan manisan pala basah. Total biaya variabel untuk produksi 300 kg manisan pala kering dalam satu periode adalah sebesar Rp. 1.865.058 dan dalam satu bulan dapat dilakukan 6 kali periode produksi. Jumlah biaya variabel untuk pala kering dalam satu bulan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.3.
Biaya Variabel Pembuatan 300 Kg Manisan Pala Kering

No. Uraian Total Biaya per periode(Rp) Total Biaya 1 bulan (6 periode)(Rp)
1. Jumlah Biaya Bahan 1.655.408 9.932.448
2. Jumlah Biaya Tenaga Kerja 209.650 1.257.900
Total Biaya Operasional 1.865.058 11.190.348

Hasil Pengolahan Data Primer (2001)

Perincian komponen biaya variabel untuk produksi pala kering dapat dilihat pada Tabel Lampiran 2. Total biaya variabel untuk produksi 150 kg manisan pala basah adalah sebesar Rp. 546.950 dan dalam satu bulan dapat dilakukan 3 kali periode produksi. Jumlah biaya produksi untuk pembuatan manisan pala basah dalam satu bulan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.4.
Biaya Variabel Pembuatan 150 Kg Manisan Pala Basah

No. Uraian Biaya Per Periode(Rp) Biaya 1 Bulan (3 periode)(Rp)
1. Jumlah Biaya Bahan 507.950 1.523.850
2. Jumlah Biaya Tenaga Kerja 39.000 117.000
Total Biaya Operasional 546.950 1.640.850

Hasil Pengolahan Data Primer (2001)

Perincian komponen biaya variabel untuk produksi manisan pala basah dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan biaya variabel pembuatan manisan pala kering dan manisan pala basah maka total biaya variabel usaha pembuatan manisan pala tersebut dalam satu bulan adalah sebesar Rp 12.831.198 dan dalam setahun sebesar Rp 128.311.980. Jumlah bulan produksi efektif dihitung sebanyak 10 bulan (Tabel 5.5).

Tabel 5.5.
Total Biaya Variabel Usaha Pembuatan Manisan Pala

Produk Produksi Per Bulan (Kg) Jumlah Bulan Efektif Biaya produksi per Bulan (Rp) Total Biaya Produksi Per Tahun(Rp)
Pala Kering 1.800 10 11.190.348 111.903.480
Pala Basah 450 10 1.640.850 16.408.500
Total manisan pala 2.250   12.831.198 128.311.980

Hasil Pengolahan Data Primer (2001)
Biaya tetap merupakan biaya operasional yang dikeluarkan untuk setiap bulan kerja, yang tidak terkait langsung dengan jumlah produksi. Yang termasuk biaya tetap adalah biaya tenaga kerja tetap (pengelola usaha), biaya transportasi, biaya administrasi, listrik, air dan biaya tetap lainnya. Jumlah biaya tetap yang diperlukan dalam produksi manisan pala adalah sebesar Rp 1.175.000.

Tabel 5.6.
Total Biaya Overhead (Biaya Tetap) Usaha Pembuatan Manisan Pala

Uraian Produksi Per Bulan (Kg) Jumlah Bulan Efektif Biaya produksi per Bulan(Rp) Total Biaya Produksi Per Tahun(Rp) Total Biaya Per Tahun(Rp)
Tenaga Kerja Tetap Orang 1 500.000 500.000 6.000.000
Transportasi Kali 4 150.000 600.000 7.200.000
Kertas semen (pelapis ebek) Lembar 50 500 25.000 300.000
Listrik, Air, dll. Unit 1 50.000 50.000 600.000
Jumlah 1.175.000 14.100.000

Hasil Pengolahan Data Primer (2001)

Dengan demikian berdasarkan uraian 2.1 dan 2.2 maka Total biaya produksi pembuatan manisan pala adalah sebagai berikut:

Tabel 5.7.
Total Biaya Produksi Usaha Pembuatan Manisan Pala

Uraian Modal Kerja Per Bulan(Rp) Total Biaya ProduksiPer Tahun(Rp)
Jumlah Biaya Bahan 12.831.198 128.311.980
Jumlah Biaya Tenaga Kerja 1.175.000 14.100.000
Total Biaya Produksi 14.006.198 142.411.980

Hasil Pengolahan Data Primer (2001)

  1. 2.       PENDAPATAN USAHA

Pendapatan usaha manisan pala berasal dari total penjualan manisan pala kering dan manisan pala basah serta ditambah penjualan biji dan fuli pala (Tabel 5.8). Biji pala (Nutmeg Shelled) dan fuli/cempra (Mace) merupakan hasil samping dari usaha manisan pala. Berdasarkan pengalaman yang dilakukan oleh pengrajin di daerah sampel, untuk 500 biji pala dihasilkan 1 kg biji kering dan 0,1 kg fuli. Perolehan biji yang terkumpul adalah sebesar 60%.

Dari hasil penjualan manisan pala dan hasil sampingnya mampu memberikan keuntungan bersih sejak mulai tahun pertama. Pada tahun pertama kapasitas produksi sebesar 80%, tahun ke-2 sebesar 90% dan setelah tahun ke-3 berproduksi penuh 100%. Rata-rata keuntungan yang dapat diperoleh setelah periode angsuran selesai adalah sebesar Rp 26.037.557 setiap tahunnya. Pendapatan bersih pertahun dari usaha manisan pala dapat dilihat pada Tabel 5.9.

Tabel 5.9. Pendapatan Bersih Pertahun Usaha Pembuatan Manisan Pala (dalam Rp)

No.

Uraian

Tahun 1

Tahun 2

Tahun 3

Tahun 4

Tahun 5

Skala Produksi 80%

90%

100%

100%

100%

A.

Total Penjualan 141.059.520

158.691.960

176.324.400

176.324.400

176.324.400

Biaya Variabel 102.649.584

115.480.782

128.311.980

128.311.980

128.311.980

Biaya Tetap 13.904.000

15.642.000

17.380.000

17.380.000

17.380.000

B.

Total Biaya Produksi

116.553.584

131.122.782

145.691.980

145.691.980

145.691.980

Laba Operasi

24.505.936

27.569.178

30.632.420

30.632.420

30.632.420

Bunga Kredit

3.841.728

1.672.176

587.521

C.

Laba Sebelum Pajak

20.664.208

25.897.002

30.044.899

30.632.420

30.632.420

Pajak (15%)

3.099.631

3.884.550

4.506.735

4.594.863

4.594.863

D.

Laba Setelah Pajak

17.564.577

22.012.451

25.538.164

26.037.557

26.037.557

Profit on Sales

12,45%

13,87%

14,48%

14,77%

14,77%

Hasil Pengolahan Data Primer (2001)

 

  1. 3.       KEBUTUHAN MODAL DAN KREDIT

Kebutuhan modal dalam menjalankan usaha pembuatan manisan pala terdiri dari modal investasi dan modal kerja untuk satu bulan. Dalam memenuhi kebutuhan modal usaha manisan pala, sebagian pengrajin manisan pala di daerah sampel telah mendapat pinjaman dari bank. Pihak bank hanya bersedia memberikan pembiayaan terhadap usaha manisan pala yang sudah berjalan. Pinjaman yang diberikan dapat berupa pinjaman untuk tambahan investasi ataupun untuk tambahan modal kerja. Jangka waktu pinjaman selama 3 tahun untuk kredit investasi dan 1-2 tahun untuk kredit modal kerja dengan bunga kredit sebesar 22% per tahun.

Pembiayaan usaha Pembuatan Manisan Pala dibiayai dari dana sendiri dan dana pinjaman dengan komposisi 35% dana sendiri dan 65% dana pinjaman. (Tabel 5.10)

Tabel 5.10. Total Kebutuhan Biaya Usaha Pembuatan Manisan Pala

No

Uraian

Kebutuhan Modal

Modal Sendiri 35%

Modal Pinjaman 65%

A.

Biaya Investasi 22.755.000 7.964.250 14.790.750

B.

Biaya Modal Kerja 14.006.198 4.902.169 9.104.029

C.

Total Biaya Proyek 36.761.198 12.866.419 23.894.779
Hasil Pengolahan Data Primer (2001)

 

  1. 4.       ANALISA PROFITABILITAS

Untuk melihat profitabilitas dari modal yang diinvestasikan maka dilakukan perhitungan berdasarkan parameter dan asumsi pada Tabel 5.1, dan diperoleh kriteria kelayakan usaha sebagai berikut :

No. Kriteria Nilai Kriteria
1. NPV (22%) Rp 44.520.471
2. IRR 67,47%
3. Profit on sale 14,07%
4. PBP 1 tahun 6 bulan
5. Net B/C 2,21
 

Nilai NPV yang positif, IRR yang berada diatas suku bunga dan B/C yang lebih dari satu memperlihatkan bawa usaha ini layak untuk dilaksanakan, dengan tingkat pengembalian modal yang relatif cepat (1 tahun 6 bulan).

KENDALA DAN HAMBATAN PADA ASPEK KEUANGAN

Kendala yang dialami pengusaha kecil manisan pala pada aspek keuangan adalah keterbatasan kemampuan pengusaha dalam memenuhi kebutuhan modal usaha. Berdasarkan wawancara yang dilakukan di daerah survei, sebagian responden menyatakan berkeinginan untuk meningkatkan modal usaha namun masih enggan untuk meminjam ke Bank karena tidak mampu menyediakan jaminan yang cukup dan khawatir tidak mampu mengembalikan kredit. Pengusaha yang bermodal kecil lebih memilih untuk meminjam kepada sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar. Namun jumlah pinjaman tersebut relatif kecil, sebatas untuk memenuhi kekurangan biaya satu kali produksi. Disamping itu bagi pengusaha yang masih baru belum dapat melakukan akses terhadap permodalan yang disediakan perbankan karena bank lebih memilih membiayai usaha yang sudah berjalan.

Untuk meningkatkan akses usaha kecil terhadap sumber permodalan, maka diharapkan pihak instansi terkait terus mendorong dan meningkatkan pembinaan usaha kecil ini.

PEMASARAN PRODUK

Hasil produk manisan pala umumnya dipasarkan oleh pengusaha/pengrajin manisan pala kepada pedagang pengecer dan distributor yang telah menjadi langganan tetap, atau juga kepada para pembeli yang datang langsung. Pembeli yang datang ke lokasi jumlahnya relatif sedikit. Sebagian pengrajin sudah pernah melakukan kerjasama dengan supermarket, namun karena sistem pembayaran yang terlalu lama (1 bulan) dirasakan sebagai hambatan bagi para pengusaha manisan pala yang modal kerjanya relatif kecil.

Daerah pemasaran mencakup wilayah Bogor, Jakarta, Cianjur, Tangerang dan Cilegon. Selain dipasarkan sendiri oleh para pengrajin ke pedagang, terjadi juga transaksi penjualan diantara pengusaha manisan pala sendiri. Transaksi penjualan antara pengusaha pala biasanya terjadi jika salah satu pengusaha manisan pala tersebut mengalami kekurangan stok produk manisan pala dalam memenuhi permintaan langganan/konsumennya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

  1. Usaha pembuatan manisan buah pala merupakan usaha yang berpotensi untuk dikembangkan, karena ditunjang oleh keberadaan Indonesia sebagai negara penghasil pala utama dunia dengan produksi mencapai 19,95 ribu ton per tahun.
  2. Usaha kecil pembuatan manisan pala selama ini sudah ada yang mendapat pembiayaan dari bank dan mampu berkembang serta memberikan keuntungan yang memadai, terbukti sebagian besar (75%) dari unit usaha ini yang dibiayai bank mampu mengembalikan pinjaman tepat waktu.
  3. Produk manisan pala merupakan salah satu komoditi yang mempunyai pasar yang cukup potensial baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor. Pangsa pasar domestik saat ini baru dimanfaatkan di sekitar wilayah yang dekat dengan sentra produksi saja, karena itu masih terbuka peluang untuk dipasarkan ke daerah lain termasuk pasar ekspor yang selama ini belum terlayani.
  4. Teknis produksi pembuatan manisan pala relatif sederhana dan mudah untuk dilakukan oleh usaha kecil. Lokasi usaha juga dapat dilakukan di rumah atau di sekitar rumah serta dapat dikelola sebagai usaha rumah tangga.
  5. Secara finansial kebutuhan investasi untuk usaha pembuatan manisan pala yang dikelola secara intensif dengan kapasitas produksi 2.250 kg/bulan adalah sebesar Rp. 22.755.000 dan modal kerja sebesar Rp. 14.006.198 per bulan.
  6. Berdasarkan hasil analisa finansial menunjukkan bahwa usaha pembuatan manisan pala mampu memberikan manfaat NPV sebesar Rp 44.520.471, dengan IRR 67,47%, Net B/C 2,21 dan Pay Back Period dalam jangka waktu 1,48 tahun (1 tahun 6 bulan). Nilai produksi untuk mencapai BEP adalah sebesar Rp 63.827.611. Hal ini menunjukkan usaha ini layak untuk dijalankan.
  7. Berdasarkan hasil analisa sensitivitas menunjukkan bahwa usaha manisan pala masih memberikan keuntungan dan masih layak untuk dikembangkan jika terjadi penurunan harga produk sebesar 10% dan kenaikan biaya produksi sebesar 10%.

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com / lembaga keuangan agribisnis

www.google.com / tipe pembiayaan agribisnis

www. Bank Indonesia.com / SIPUK MANISAN PALA

About bondaneddyana

Menyukai membuat laporan, presentasi kegiatan atau laporan, penghitungan data - data

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: