//
you're reading...
Sistem Agribisnis

Semester 2. Persaingan Pasar Agribisnis.

BAB 1

PENGERTIAN PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS

Persaingan dalam konteks pemasaran adalah keadaan dimana perusahaan pada pasar produk atau jasa tertentu akan memperlihatkan keunggulannya masing-masing, dengan atau tanpa terikat peraturan tertentu dalam rangka meraih pelanggannya (Kotler, 2002). Sedangkan menurut Porter, persaingan akan terjadi pada beberapa kelompok pesaing yang tidak hanya pada produk atau jasa sejenis, dapat pada produk atau jasa substitusi maupun persaingan pada hulu dan hilir (Porter, 1996).

Sedangkan dinamika adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada periode tertentu (siapa, tahun). Dengan demikian dinamika persaingan adalah perubahan-perubahan yang terjadi terhadap persaingan yang terjadi pada perusahaan dalam memperebutkan pelanggan pada periode periode tertentu.

Faktor penyebab persaingan yang lebih kompleks.

Persaingan yang lebih kompleks terjadi saat ini karena menurunnya perhatian pada pelaku industri tehadap pasar tunggal dan naiknya perhatian mereka terhadap pasar pasar global. Perubahan tingkat kompleksitas ini disebabkan oleh beberapa hal seperti

1. Adanya evolusi menuju pasar global(Mudradjad, 2009). Evolusi yang terjadi pada perusahaan membuat organisasi/ perusahaan yang ada ingin terus meningkatkan persaingannya di pasar. Salah satu bentuk evolusi yang terjadi adalah dari perusahaan domestik- perusahaan Internasional- Perusahaan Multinasional- Perusahaan Global. Pada level perusahaan domestik juga dapat terjadi evolusi karena tingkat proteksi dari pemerintah (Holland, 1987:170-171). Evolusi ini akan membentuk perubahan dari Industri Bayi (infant) menjadi Industri Remaja (adolescent) dan menjadi Industri. Perbedaan ketiga perusahaan tersebut di atas mencakup fokus, visi, orientasi, gaya operasi, strategi, struktur organisasi, strategi pemasaran, fokus lokasi riset dan pengembangan, kebijakan penempatan alokasi SDM, pola komunikasi, kebijakan pengembangan produk baru, kemitraan dan kebijakan investasi

2. Skala Ekonomis atau Belajar. Perusahaan berusaha untuk melakukan pembelajaran untuk menigkatkan kemampuannya dan skala ekonomis yang lebih baik juga mendoran perusahaan untuk menembus pasar global. Ada beberapa keuntungan yang dapat diraih dan mendorong perusahaan dalam mencapai skala ekonomis. Ketika perusahaan berada dalam keadaan pasar global, maka hal ini akan memperluas ukuran atau cakupan pasar membantu mencapai skala ekonomis dalam manufaktur, pemasaran, R&D atau distribusi selain juga akan dapat menyebarkan biaya ke basis penjualan yang lebih besar, meningkatkan laba per unit, keuntungan lokasi. Keadaan ini juga akan membentuk suatu pasar dengan biaya rendah yang membantu dalam pengembangan keunggulan kompetitif dan memungkinkan akses yang lebih baik ke beberapa sumber daya yang lebih murah.

3. Kemajuan teknologi informasi membuat koordinasi antar pasar menjadi lebih mudah. Kini perusahaan-perusahaan yang ada telah menggunakan sarana internet dan teknologi nir kabel lainnya untuk kepentingan bisnisnya. Hal ini membuat koordinasi dari masing-masing organisasi atau perusahaan menjadi semakin lebih kuat. Kemajuan teknologi inovasi di sisi lain juga meningkatkan daya saing perusahaan berukuran kecil dan menengah.

Contoh terjadinya dinamika persaingan

Pemain pertama yang masuk ke industri tertentu sering dianggap memiliki peluang pertama untuk membangun pangsa pasar, mengendalikan arah perkembangan industri, membangun merek dan saluran distribusi yang kuat, atau mengangkangi sumber daya yang langka seperti lokasi strategis atau hak paten. Banyak perusahaan, terutama di dunia teknologi, yang berlomba-lomba mengeluarkan inovasi radikal baru dengan tujuan mengunci para pengguna terlebih dahulu. Selisih masa peluncuran beberapa bulan saja sering berakibat fatal bila ada kompetitor yang mendahului. Realita, tentu saja, tidak sesederhana itu. Kadang pelopor industri memang berhasil meraup keuntungan ekonomis yang besar. Kadang penguasaan pangsa pasarnya mendekati monopoli. Tetapi banyak juga contoh-contoh pelopor yang gagal. Daftar tersebut mencakup, misalnya, Kodak yang dikalahkan Sony dalam industri kamera video 8 mm, web browser Mosaic yang dikalahkan Netscape dan kemudian Internet Explorer dari Microsoft, VisiCalc yang digulingkan Lotus 123 dan kemudian Microsoft Excel, microwave Raytheon dan VCR Ampex yang sudah tidak kedengaran namanya lagi, dan mesin video games Magnavox yang dikalahkan Atari, Nintendo, dan sekarang Sony.

 

BAB 2

PASAR PERSAINGAN SEMPURNA DAN TIDAK SEMPURNA

Pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran di mana jumlah pembeli dan penjual sedemikian rupa banyaknya/ tidak terbatas.

Ciri-ciri pokok dari pasar persaingan sempurna adalah:
a. Jumlah perusahaan dalam pasar sangat banyak.
b. Produk/barang yang diperdagangkan serba sama (homogen).
c. Konsumen memahami sepenuhnya keadaan pasar.
d. Tidak ada hambatan untuk keluar/masuk bagi setiap penjual.
e. Pemerintah tidak campur tangan dalam proses pembentukan harga.
f. Penjual atau produsen hanya berperan sebagai price taker (pengambil harga).

Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar atau industri yang terdiri dari produsen-produsen yang mempunyai kekuatan pasar atau mampu mengendalikan harga output di pasar.

Terdapat tiga model umum di pasar persaingan tidak sempurna, yaitu pasar monopoli, pasar persaingan monopolistik dan oligopoli.

Pasar monopoli merupakan industri yang terdiri dari satu perusahaan di mana terdapat hambatan bagi perusahaan-perusahaan baru untuk memasuki pasar. Beberapa hambatan masuk berupa waralaba pemerintah, paten, skala ekonomi dan keunggulan biaya lain, kepemilikan atas faktor produksi yang langka.

Persaingan monopolistik merupakan industri yang memiliki banyak produsen di mana perusahaan pesaing bebas memasuki industri dan perusahaan-perusahaan mendiferensiasikan produk mereka. Diferensiasi produk dimaksudkan untuk memenuhi keinginan konsumen, membangun reputasi atas produk yang dihasilkan dan memberikan pelayanan yang baik. Selain kelebihan berupa adanya keanekaragaman produk, efisiensi dan informasi tentang produk, diferensiasi produk juga mempunyai kelemahan yaitu adanya pemborosan, harga produk yang lebih mahal, kesalahan informasi dan kejenuhan masyarakat terhadap tayangan iklan.

Oligopoli adalah industri dengan sejumlah kecil perusahaan yang masing-masing cukup mampu untuk mempengaruhi harga pasar dari output yang dihasilkannya. Selain memiliki banyak bentuk dalam pasar oligopoli terdapat juga empat model yang umum dikenal yaitu model kolusi, model Cournot, model kurva permintaan yang patah dan model kepemimpinan harga.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki kekuatan pasar dihadapkan pada empat keputusan penting yaitu berapa output yang akan diproduksi, bagaimana memproduksinya, berapa input yang akan diminta di masing-masing pasar dan berapa harga output yang akan ditetapkan.

Keputusan harga dan output oleh perusahaan dalam pasar persaingan tidak sempurna berbeda-beda tergantung pada bentuk pasar di mana perusahaan berada dan tujuan dari perusahaan adalah memaksimalkan laba total.

Diskriminasi harga merupakan penetapan harga yang berbeda untuk pembeli barang yang sama atau penetapan harga di mana perbandingan antara harga dan biaya marjinal berbeda di antara para pembeli. Diskriminasi harga dibedakan menjadi tiga yaitu diskriminasi harga derajat ketiga, diskriminasi harga derajat kedua dan diskriminasi harga derajat pertama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

KENDALA INDONESIA DALAM PERSAINGAN PASAR AGRIBISNIS

Untuk memenangkan persaingan usaha dibidang pertanian di jaman era globalisasi pada saat ini dalam dunia bisnis modern haruslah memiliki trend dan kreatif terhadap inovasi produk pertanian olahan.

Pada prinsipnya produk pertanian olahan kita seperti produsen minuman dan makanan seperti: Virgin Coconut Oil (VCO), Nata de coco, Aloe vera, Keripik kentang (Potato Chips) Keripik Sukun, Keripik buah-buahan dan sebagainya memiliki potensi yang sangat baik bagi peluang ekspor. Pada saat pameran internasional yang diharapkan adalah for the first sight / pada pandangan pertama ketertarikan dan keunikan dari produk pertanian olahan Indonesia yang memiliki daya saing dipasar Internasional.

Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal yang menjadi kendala dalam persaingan pasar usaha bidang produk pertanian olahan antara lain:

a)      Kemasan (Packaging)

Yang perlu diperhatikan produk-produk pertanian olahan tersebut harus memiliki egar khas, unik dan menarik bagi konsumen. Kemasan (packing) yang dimaksud adalah kemasan sebagai pemanis produk sehingga penampilannya menarik minat konsumen dan pengemasannya untuk pengaman produk selama didalam perjalanan.

b) Kemampuan produksi (Ability to produce)

Dalam hal ini perlu diperhatikan ketika terjadi transaksi di arena pameran biasanya buyer besar akan membeli dengan jumlah besar. Biasanya kesulitan oleh produsen adalah memenuhi kuota seperti yang kita lihat adanya produk-produk herbal, medicinal herbs, produk spa dan sebagainya terkadang tidak ega memproduksi dengan kuantitas yang besar, jadi harus bersinergi dengan para pelaku usaha lain didalam meningkatkan kualitas dan kuantitas.

c) Merek (Brand)

Untuk produk olahan pertanian Indonesia usahakan egara merek sehingga identitas produk dapat dibedakan dengan produk lain dan memiliki hak paten untuk produknya.

Dari nilai-nilai diatas yang perlu diperhatikan bagaimana kita bangsa Indonesia ega berdaya saing dan memiliki egar khas untuk produk-produk olahan Indonesia tersebut yang berorientasi ekspor. Sebagaimana yang kita ketahui Malaysia memiliki produk kentang kemasan Piatos potato chips dengan kemasan yang menarik dan berbagai cita rasa, Begitu juga dengan Thailand yang mengemas kripik manggis dalam kaleng. Sebenarnya kita sudah banyak memiliki produk pertanian olahan seperti kripik pisang Lampung, kripik salak Yogya dan sebagainya yang mungkin kurang promosinya.

Indonesia tidak pernah kalah dengan egara lain dalam produk pertanian olahannya karena Indonesia memiliki berbagai macam aneka cita rasa nusantara yang memiliki daya saing untuk pasar internasional. Diharapkan dalam pameran-pameran skala internasional produk pertanian olahan unggulan daerah Indonesia dapat menjaring pasar yang lebih besar di pasar Internasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

STUDI KASUS PERSAINGAN PEMASARAN SALAH SATU PRODUK AGRIBISNIS

 

Industri Manisan Pala

Pendahuluan

Tanaman pala (Myristica fragrans houtt) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda dan Maluku. Tanaman pala dikenal dengan tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomis. Hasil tanaman pala yang biasa dimanfaatkan adalah buah pala. Buah pala terdiri dari daging buah (77,8%), fuli (4 %), tempurung (5,1%) dan biji (13,1%). Bagian buah yang bernilai ekonomi cukup tinggi adalah biji pala dan fuli (mace) yang dapat dijadikan minyak pala. Daging buah pala dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi manisan pala, asinan pala, dodol pala, selai pala dan sirup pala. Indonesia merupakan negara pengekspor biji pala dan fuli terbesar dipasaran dunia (sekitar 60%), dan sisanya dipenuhi dari negara lainnya seperti Grenada, India, Srilangka dan Papua New Guinea. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan (2000) produksi pala Indonesia tahun 2000 adalah sebesar 19,95 ribu ton. Produksi pala relatif stabil dan cenderung meningkat sejak tahun 1994 yang berkisar antara 19,00 -19,95 ribu ton per tahun. Daging buah pala yang merupakan bagian terbesar dari hasil panen buah pala merupakan suatu potensi bahan baku yang sangat besar untuk dapat dimanfaatkan. Salah satu upaya pemanfaatan daging buah pala adalah pembuatan manisan pala, yang umumnya dilaksanakan oleh usaha kecil rumah tangga. Untuk itu pemberdayaan usaha kecil ini perlu terus ditingkatkan. Melalui pemberdayaan usaha kecil manisan pala ini, diharapkan produk manisan pala juga dapat menjadi komoditi ekspor Indonesia mengiringi ekspor biji, fuli dan minyak pala

Profil Usaha

Usaha manisan pala di wilayah survei merupakan usaha yang sudah dijalankan sejak tahun 1970/1980 dan berlangsung secara turun temurun sampai sekarang dan cenderung sebagai usaha rumah tangga. Sebagian rumah tangga menjadikan usaha ini sebagai usaha pokok dan sebagian lagi menjadikannya sebagai usaha tambahan. Beberapa alasan pengusaha manisan pala menekuni usahanya antara lain adalah tersedianya sumber bahan baku, keterampilan dikuasai, harganya baik dan pasar yang sudah terjamin. Selain itu ada juga pengusaha yang menyatakan melakukan usaha ini karena tidak ada usaha lain.

Kegiatan usaha pembuatan manisan pala dapat dilakukan oleh pria maupun wanita. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di daerah survei pada tahun 1995, pengelola dan tenaga kerja pada usaha pembuatan manisan pala ini umumnya wanita atau ibu rumah tangga. Dari 30 pengusaha yang disurvei sebanyak 20 unit usaha dikelola oleh wanita dan 10 lainnya dikelola oleh laki-laki (Nugraha, D.R, 1995 ).

Rata-rata pengusaha manisan pala memiliki jenjang pendidikan SD dan SLTP. Keterampilan membuat manisan pala diperoleh dengan belajar sendiri dari orang tua, tetangga dan atau mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga dan instansi terkait.

Dilihat dari kepemilikan usaha, seluruhnya merupakan usaha milik sendiri, dan umumnya belum memiliki badan hukum. Tenaga kerja yang terlibat berasal dari dalam dan luar keluarga. Tenaga kerja dari dalam keluarga umumnya sebagai pengelola dan tenaga pemasaran. Tenaga kerja dari luar keluarga merupakan tenaga kerja harian atau tenaga borongan. Pengelolaan usaha ini masih dilakukan masing-masing secara terpisah, tidak dalam satu kelompok, serta belum pernah dilakukan kemitraan dengan pihak lain. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, para pengusaha manisan pala menyatakan bahwa kelompok usaha pernah dibentuk namun tidak berjalan dengan baik.

Menurut data dari Deperindag Kabupaten Bogor usaha manisan pala di daerah ini berjumlah sekitar 73 unit usaha, dengan tingkat produksi per unit usaha berkisar antara 10 – 15 ton manisan pala per tahun. Selain menjual produk manisan pala, pengusaha juga menjual biji (nutmeg in shell) dan fuli (mace) sebagai hasil samping. Harga jual biji dan fuli per kg jauh lebih besar dibanding manisan pala, namun jumlah kg jauh lebih kecil karena biji dan fuli hanya sebesar 13% dari seluruh bagian buah pala.

Pola Pembiayaan

Dalam memenuhi kebutuhan modal usaha pembuatan manisan pala disamping modal sendiri sebagian pengusaha ada yang memanfaatkan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank, ada pula pengusaha yang meminjam dari pedagang atau sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap pengusaha manisan pala di wilayah survei (Nugraha, D.R, 1995 ), bahwa dari 30 pengusaha manisan pala, sebanyak 4 pengusaha (13,3%) pernah meminjam modal ke Bank, 5 pengusaha (16,7%) meminjam modal ke KUD, dan sebanyak 16 pengusaha (53.33%) meminjam modal dari pedagang atau sesama pengusaha yang memiliki modal lebih besar serta sisanya (16,7%) menggunakan modal usaha pribadi. Bagi pengusaha yang modal kerjanya meminjam dari sesama pengusaha atau dari pedagang, pembayarannya dilakukan setelah diperoleh hasil penjualan produk manisan pala.

Berdasarkan pengamatan di wilayah survei, pengusaha manisan pala yang relatif maju adalah mereka yang memiliki persediaan modal kerja yang lebih dari satu kali periode produksi atau cukup untuk satu bulan kerja. Diantara pengusaha manisan pala yang tergolong maju ada yang pernah memperoleh pinjaman dari bank. Pengusaha yang bersangkutan telah memulai usaha sejak tahun 1980 dan sudah beberapa kali mendapat pinjaman dari bank, mulai dari pinjaman pertama sekali sebesar Rp 75.000 sampai dengan diberi kepercayaan oleh bank untuk mendapatkan dana pinjaman sebesar Rp 22 juta dan sudah dapat dilunasi. Saat ini usaha yang dijalankan mampu menggunakan dana sendiri.

Bank yang menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil umumnya terdapat di lokasi penelitian dengan status Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu. Diantara beberapa Bank yang beroperasi di wilayah penelitian, baru satu bank yang ditemui memberikan pinjaman terhadap usaha kecil manisan pala.

Bank pemberi kredit sebagai kantor cabang pembantu telah menyalurkan kredit sejak tahun 1990. Sampai saat ini melalui kantor cabang pembantu bank tersebut telah membiayai sebanyak 10 unit usaha manisan pala. Dari jumlah tersebut 50% diantaranya merupakan pengusaha murni manisan pala dan 50% lainnya juga memiliki usaha lain disamping usaha manisan pala. Jumlah kredit yang disalurkan bervariasi mulai Rp 1 juta sampai dengan Rp 22 juta dengan jangka waktu pinjaman 1-2 tahun yang dicicil setiap bulannya. Dari sejumlah pinjaman yang telah disalurkan kepada usaha kecil manisan pala, sebanyak 75% diantaranya dinilai baik dalam pengembalian.

Aspek Pemasaran

Pemasaran

Hasil produk manisan pala umumnya dipasarkan oleh pengusaha/pengrajin manisan pala kepada pedagang pengecer dan distributor yang telah menjadi langganan tetap, atau juga kepada para pembeli yang datang langsung. Pembeli yang datang ke lokasi jumlahnya relatif sedikit. Sebagian pengrajin sudah pernah melakukan kerjasama dengan supermarket, namun karena sistem pembayaran yang terlalu lama (1 bulan) dirasakan sebagai hambatan bagi para pengusaha manisan pala yang modal kerjanya relatif kecil.

Daerah pemasaran mencakup wilayah Bogor, Jakarta, Cianjur, Tangerang dan Cilegon. Selain dipasarkan sendiri oleh para pengrajin ke pedagang, terjadi juga transaksi penjualan diantara pengusaha manisan pala sendiri. Transaksi penjualan antara pengusaha pala biasanya terjadi jika salah satu pengusaha manisan pala tersebut mengalami kekurangan stok produk manisan pala dalam memenuhi permintaan langganan/konsumennya.

Persaingan dan Peluang pasar

Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan diantara sekian banyak jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Kekhasan dari rasa manisan pala dan tidak disemua daerah/tempat dapat ditemui produksi manisan ini menyebabkan manisan pala tetap menjadi salah satu pilihan sebagai bingkisan untuk oleh-oleh. Manisan pala juga masih merupakan salah satu alternatif makanan ringan yang disajikan pada saat perayaan hari-hari besar lebaran dan tahun baru.

Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru. Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Berdasarkan data usaha kecil Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor, jumlah industri kecil manisan pala di Kabupaten Bogor Tahun 1998 berjumlah 73 unit usaha dengan kapasitas produksi mencapai 1.079 ton per tahun (Tabel 3.4).

Tabel 3.4.Jumlah Industri Kecil Manisan Pala Di Kabupaten Bogor Tahun 1998

Kecamatan

Desa

Unit Usaha

Tenaga Kerja

Investasi (Rp.000)

Produksi

Bahan Baku

Ton

Nilai Rp 000

Nilai Rp 000

Ciomas Sukaluyu

10

25

13.600

105

630.000

367.500

Ciomas Tamansari

15

15

10.500

225

1.350.000

787.500

Dramaga Dramaga

48

338

24.000

749

4.492.800

2.620.800

Jumlah

73

378

48.100

1.079

6.472..800

3.775.800

Sumber : Deperindag Kabupaten Bogor 2001

 

Harga manisan pala dari tingkat produsen ke pedagang relatif sama, oleh karena itu kunci kemampuan bersaing antara unit usaha yang sama adalah kemampuan pengusaha menghasilkan produk yang berkualitas (disenangi konsumen) dengan biaya produksi serendah mungkin.

Peluang pasar untuk manisan pala masih sangat besar, mengingat manisan pala yang diproduksi di daerah Bogor sampai saat ini baru dipasarkan di wilayah Jawa Barat. Di Indonesia daerah penghasil pala hanya di beberapa propinsi saja yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Maluku Selatan serta Papua, karena itu pengenalan produk ini kedaerah-daerah lain dapat membuka peluang pasar yang baru. Peluang untuk mengekspor produk manisan ini masih terbuka mengingat berdasarkan wawancara dengan responden menyatakan bahwa pernah mendapat permintaan dari pembeli di luar negeri namun belum dapat dilayani.

Berbeda dengan manisan pala, produk pala lainya seperti biji pala, fuli dan minyak pala telah dilakukan ekspor sejak lama dan sampai saat ini telah dilakukan ekspor lebih ke 30 negara. Sampai saat ini Indonesia masih merupakan negara penghasil utama buah pala di dunia. Negara lain yang menjadi pengekspor pala adalah Grenada, Papua New Guinea, India dan Srilangka.

Permintaan

Permintaan Pasar dalam Negeri

Permintaan pasar dalam negeri untuk manisan pala secara khusus belum terdata, namun berdasarkan hasil survei di daerah sampel, penjualan rata-rata perbulan/unit usaha berkisar 1-2 ton. Permintaan manisan pala akan meningkat pada bulan-bulan tertentu, seperti pada saat lebaran, dan akhir tahun. Berdasarkan wawancara dengan seorang pedagang lokal di kota Bogor, penjualan perhari mencapai 90 kg/hari atau sekitar 2,7 ton perbulan. Umumnya pengusaha manisan pala di kota Bogor baru melayani permintaan dari dalam propinsi saja.

Permintaan Ekspor

Berdasarkan wawancara dengan pengusaha manisan pala, keadaan permintaan pasar terhadap manisan pala cukup baik. Selain permintaan dari dalam negeri juga ada permintaan dari luar negeri seperti dari Singapura, Kuwait dan Syria. Namun permintaan dari luar negeri ini sampai saat ini belum terealisir. Alasan yang dikemukakan pengusaha antara lain kurangnya dana dan kapasitas produksi yang masih kecil.

Permintaan ekspor terhadap produk dari pala yang terbesar adalah biji pala kering (nutmeg in shell dan nutmeg shelled), fuli (mace) dan minyak pala (essential oil of nutmegs). Keadaan permintaan pasar terhadap produk pala ini (biji, fuli dan minyak atsiri dari pala) cukup baik, khususnya permintaan akan biji pala tanpa cangkang yang terus mengalami peningkatan. Permintaan terhadap fuli dan minyak pala relatif stabil pada periode antara tahun 1996-2000. Volume dan nilai ekspor beberapa produk pala dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Volume dan Nilai Ekspor Beberapa Produk Pala tahun 1996 – Maret 2001

Tahun

Satuan

Nutmeg In Shell

Nutmeg Shelled

Mace

Essential Oils Of Nutmegs

1996

Berat(KG)

1.403.640

5.570.768

1.259.372

216.581

Nilai(US$)

1.707.664

8.380.719

4.082.962

3.105.894

1997

Berat(KG)

1.113.297

5.136.093

1.158.311

209.513

Nilai(US$)

1.587.152

9.371.007

5.065.976

3.778.535

1998

Berat(KG)

2.967.260

4.683.493

1.634.262

382.100

Nilai(US$)

5.197.590

13.519.184

9.997.225

10.014.413

1999

Berat(KG)

1.752.875

6.002.785

1.700.372

383.725

Nilai(US$)

4.226.430

24.534.996

10.316.131

10.046.165

2000

Berat(KG)

1.101.878

8.071.150

1.284.115

350.544

Nilai(US$)

2.284.505

39.270.109

7.583.560

9.109.814

Jan-Maret 2001

Berat(KG)

315.464

908.947

452.690

109.734

Nilai(US$)

738.057

3.064.102

1.508.881

3.202.053

Sumber : Deperindag 2001

Lebih jelasnya kecenderungan perkembangan volume dan nilai ekspor beberapa produk pala dari tahun 1996 – 2000 dapat dilihat pada Grafik 3.1 dan Grafik 3.2.

Grafik 3.1. Perkembangan Volume Ekspor Beberapa Produk Pala Tahun 1996-2000

Grafik 3.2. Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Produk Pala Tahun 1996 – 2000

Produk dari pala (biji, fuli dan minyak pala) telah diekspor lebih ke 30 negara. Adapun negara-negara pengimpor utama produk pala antara lain adalah Singapura, Belanda, Hongkong, Jepang, Belgia, Malaysia, Amerika Serikat, Perancis, India, Italia, Jerman, dan Thailand

Penawaran

Berdasarkan data statistik industri sedang dan besar, produksi manisan pala tahun 1998 adalah sebesar 24.000 kg dengan nilai Rp. 115 juta. Walaupun data nasional total produksi manisan pala dari industri kecil tidak ada, namun jumlah produksi manisan pala dari industri kecil di Kabupaten Bogor pada tahun 1998 telah mencapai 1.079 ton dengan nilai Rp. 6.472,8 juta atau sekitar 90 ton perbulan dengan nilai Rp. 539,4 juta. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah produksi manisan pala dari industri kecil lebih besar dibanding industri besar/sedang.

Kapasitas produksi dari usaha pembuatan manisan pala ini adalah sebesar 2,25 ton per bulan atau sekitar 2,5% dari produksi di wilayah Bogor.

Produksi biji pala untuk ekspor sebagian besar juga berasal dari industri kecil. Data ekspor biji pala tahun 1998 adalah sebesar 5.197.590 kg yang dipasok dari industri besar sebanyak 2.023.347 kg atau sekitar 39%, sisanya 61% dipasok dari industri kecil.

Indonesia merupakan negara penghasil pala terbesar di dunia, produksi dan sebaran daerah penghasil pala di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Produksi Buah Pala Menurut Daerah Produksi di Indonesia

 

Propinsi

Luas Areal (Ha)

Produksi (ton))

1998

1999

2000

1998

1999

2000

Sulawesi Utara

16.965

17.015

17.140

6.750

6.950

7.074

Maluku

16.898

16.964

17.079

4.849

4.999

5.099

Nangroe Aceh D.

11.385

11.435

11.510

4.452

4.602

4.652

Papua

5.430

5.480

5.580

1.176

1.246

1.346

Sulawesi Selatan

2.302

2.352

2.427

448

548

648

Sumatra Barat

2.244

2.294

2.334

365

465

468

Jawa Barat

2.120

2.125

2.155

219

319

419

Sulawesi Tengah

580

630

705

43

68

78

Sumatra Utara

203

208

228

44

59

62

Jawa Tengah

909

914

934

27

43

48

NTT

405

405

405

29

29

29

Lampung

80

80

80

20

25

25

Jawa Timur

9

9

9

4

4

4

Kalimantan Timur

14

14

14

2

2

2

Total Indonesia

59.544

59.925

60.600

18.428

19.359

19.954

Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia (Ditjen Perkebunan 2000)

 

Berdasarkan data pada Tabel 3.2. tersebut di atas terlihat adanya kecenderungan terjadinya peningkatan luas areal dan produksi pala setiap tahunnya. Peningkatan produksi buah pala sendiri berkisar antara 3-5% per tahun. Berdasarkan ketersediaan potensi bahan baku, daerah-daerah yang potensial untuk pengembangan usaha manisan pala adalah daerah penghasil pala utama di Indonesia seperti Sulawesi Utara, Maluku, Nangroe Aceh Darussalam, Papua, Sulawesi Selatan, Sumatra Barat dan Jawa Barat.

Harga

Harga produk manisan pala sangat dipengaruhi oleh beberapa variabel yang berlaku di pasaran, yaitu tingkat penawaran dan permintaan di pasar serta biaya pengadaan bahan baku. Perkembangan harga manisan pala dari tahun ke tahun relatif meningkat seiring dengan peningkatan biaya produksi. Pada tahun 1995 pengusaha manisan pala menjual produknya dengan harga Rp. 3.000 – 3.500 per kg, pada tahun 1998 meningkat menjadi Rp. 4.500 per kg dan pada saat ini (2001) harga penjualan rata-rata manisan pala kepada pedagang sekitar Rp 7.000 per kg.

Harga jual manisan pala dari produsen ke pedagang sangat jauh berbeda dengan harga yang berlaku dipasaran umum/harga eceran yang dapat mencapai kisaran antara Rp. 9.000 s/d Rp. 13.500 per kg bahkan harga di supermarket mencapai Rp. 18.500 per kg

Harga biji, fuli dan minyak pala dipengaruhi oleh harga yang berlaku di pasaran internasional dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Perkembangan harga ekspor rata-rata produk dari pala dapat dilihat pada Tabel 3.3. Harga biji pala kering tanpa kulit dan fuli yang saat ini berlaku ditingkat pedagang pengumpul adalah berturut-turut sebesar Rp 35.000 dan Rp 65.000.

Tabel 3.3. Perkembangan Harga Rata-Rata Produk Pala Tahun 1996-2000

Produk

Perkembangan harga (US $) pada tahun:

1996

1997

1998

1999

2000

Nutmeg in shell

1,22

1,43

1,75

2,41

2,07

Nutmeg shelled

1,50

1,82

2,89

4,09

4,87

Mace

3,24

4,37

6,12

6,07

5,91

Essensial oil of nutmegs

14,34

18,03

26,21

26,18

25,99

 

Aspek Produksi

  1. Bahan Baku

Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Penolong
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan manisan pala kering adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3.
Bahan-Bahan untuk Pembuatan Manisan Pala Kering

No Bahan Satuan Untuk 1 kg
pala kering
Untuk 300 kg
pala kering
1. Buah Pala Mentah buah 16 4.800
2. Gula Pasir kg 1 300
3. Garam kg 0,016 5
4. Natrium Bisulfit (NaHSO3)/Pengawet kg 0,002 0,5
5. Bahan Pewarna g 0,32 100
6. Plastik kemasan 0,5 kg kg   4,2
7. Isi hekter pak   4
8. Air m3   ±1
9. Minyak tanah untuk kompor liter   8

Tabel 4.4.
Bahan-Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan Manisan Pala Basah

No Bahan PALA BASAH Satuan Untuk 150 kg pala basah
1. Buah Pala Mentah Buah 3.000
2. Gula Pasir kg 75
3. Garam kg 5
4. Natrium Bisulfit (NaHSO3)/Pengawet kg 0,25
5. Plastik kg 3
6. Air m3 ±1
7. Isi hekter pak 3

Data Primer (2001)

Dalam pembuatan manisan pala basah untuk penghematan gula dapat menggunakan gula dari hasil penirisan pembuatan manisan pala kering.

1). Bahan Baku (buah pala)
Bahan baku untuk pembuatan manisan pala adalah buah pala yang segar, oleh karena itu buah pala yang hendak dipanen sebaiknya berumur (6-7) bulan sejak berbunga. Buah pala untuk manisan pala kering dipilih yang berukuran sedang sampai besar agar mudah dibentuk. Buah pala yang berukuran kecil tidak baik untuk pembuatan pala kering, namun masih dapat digunakan untuk diolah menjadi pala basah.

2). Bahan Penolong
a. Gula Pasir
Bahan penolong utama yang diperlukan adalah gula pasir. Penggunaan gula pasir harus dipilih yang putih dan bersih. Gula yang berwarna kecoklatan akan memberikan hasil manisan pala yang berwarna kelam.
b. Garam
Garam digunakan untuk merendam buah pala berfungsi sebagai pencegah buah pala yang telah dikupas agar tidak berubah warna menjadi kecoklatan (browning) disamping juga untuk meningkatkan cita rasa. Jumlah pemakaian garam adalah 1,5% atau 16,6 gram untuk setiap 1 kg pala.
c. Bahan Pengawet
Sebagian bahan pengawet digunakan Na-benzoat atau Natrium Bisulfit (NaHSO3). Pemakaian asam benzoat untuk 1 kg pala dibutuhkan sekitar 2 gram NaHSO3.
d. Bahan Pewarna
Bahan pewarna digunakan untuk mewarnai daging buah pala, biasanya menggunakan warna hijau, merah atau kuning. Jumlah bahan pewarna yang digunakan adalah sebanyak 0,334 gram untuk setiap kg pala.

3). Bahan Bakar
Bahan bakar berupa minyak tanah dipakai untuk pengeringan menggunakan oven. Oven untuk pengering menggunakan panas dari kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Kebutuhan minyak tanah dalam satu malam adalah sebanyak 2 liter untuk setiap kompor.

4). Pengemas
Mengingat produk manisan pala semi basah masih dijumpai di toko-toko makanan maka sebaiknya sebagai pengemas/wadah utama dipilih yang tembus pandang, misalnya botol gelas berbentuk jar (untuk pala basah) dan kantung plastik yang tidak berwarna untuk pala kering.

Sumber Bahan Baku dan Bahan Penolong
Buah pala yang diperlukan dapat dengan mudah diperoleh oleh para pengrajin/pengusaha. Karena buah pala tidak mengenal musiman, maka relatif mudah diperoleh. Para penjual buah pala biasanya langsung datang ke pasar terdekat di daerah pengrajin, bahkan penjualan ada yang diantar sampai ke depan rumah pengrajin/pengusaha. Dilihat dari ketersediaannya, bahan penolong juga mudah diperoleh oleh para pengrajin/pengusaha di pasar-pasar tradisional.

  1. JENIS DAN MUTU PRODUK

Produk yang dihasilkan terdiri dari manisan pala kering dan manisan pala basah. Produk manisan pala kering jika disimpan pada tempat yang baik mampu bertahan sampai dengan 6 bulan, sedangkan produk manisan pala basah bertahan selama 2 minggu tanpa mengalami perubahan rasa dan warna. Produk manisan pala kering yang dihasilkan dalam satu periode produksi adalah sebanyak 300 kg dan produk manisan pala basah sebanyak 150 kg. Produk pala basah dihasilkan dari sisa buah pala yang tidak dapat dijadikan pala kering bentuk bunga karena ukuran buah terlalu kecil. Buah pala yang terlalu kecil sulit untuk dibentuk dan akan memerlukan gula lebih banyak. Buah pala yang dijadikan manisan pala basah biasanya berkisar 25% dari produksi manisan pala kering.

Disamping manisan pala kering dan manisan pala basah, diperoleh pula biji pala dan fuli yang harga jual per kg jauh lebih besar dibandingkan manisan pala sendiri. Jumlah biji pala dan fuli yang dapat diperoleh adalah sebanyak 1 kg biji kering dan 0,1 kg fuli untuk setiap 500 buah pala segar. Hal ini sangat tergantung pada besar-kecil dan kematangan/ketuaan buah pala sebagai bahan baku. Untuk buah pala yang sudah cukup tua 1 kg biji dapat dihasilkan dari 150-200 buah pala. Produk yang dapat dihasilkan dari pembuatan manisan pala adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5. Produk Utama dan Hasil Samping Pembuatan Manisan Pala

 
No. Produk yang dihasilkan Konversi dari buah pala
1. Manisan Pala kering 1 kg per 16 buah pala
2. Manisan Pala basah 1 kg per 20 buah pala
3. Biji pala kering (Nutmegs shelled) 1 kg per 500 buah pala
4. Fuli/Cempra (Mace) 0,1 kg per 500 buah pala
Data Primer (2001)

 

DAFTAR PUSTAKA

http://agribisnis.deptan.go.id

http://pphp.deptan.go.id

www. WARTA AGRIBISNIS.com

www. CARI ONLINE BORNEO studi kelayakan Agribisnis

www. SIPUK Bank Indonesia.com

www.google.com / persaingan pasar agribisnis

www.google.com/ pasar sempurna dan tidak sempurna

About bondaneddyana

Menyukai membuat laporan, presentasi kegiatan atau laporan, penghitungan data - data

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: