//
you're reading...
Pemasaran Agribisnis

Semester 3. Perkembangan Penawaran Dan Permintaan Komoditas Karet.

Daftar Isi

            BAB     1          Pendahuluan…………………………………………………………………………        3

1.1              Latar Belakang

Perkembangan Pasar Dan Prospek Agribisnis Karet di Indonesia..   3

            BAB     2          Pembahasan……………………………………………………………………………..     5

                        2.1       Perkembangan Karet Alam…………………………………………………………    5

2.2       Pertumbuhan konsumsi ……………………………………………………………..    5

2.3       Pertumbuhan Produksi………………………………………………………………..   7

2.4       Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Karet Alam Dunia…….  8

2.5       Perkembangan Harga Karet Alam………………………………………………..  9

2.6       Perkembangan Pasar Karet Alam…………………………………………………. 12

2.7       Prospek Agribisnis Karet Di Indonesia…………………………………………… 12

2.8       Pengembangan Agribisnis Karet di Indonesia……………………………….. 14

            BAB     3          Kesimpulan…………………………………………………………………………………   15

BAB 1 

PENDAHULUAN

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006). Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet. Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.

1.1              Latar Belakang

Perkembangan Pasar Dan Prospek Agribisnis Karet di Indonesia

Perkembangan pasar karet alam dalam kurun waktu tiga tahun terakhir relative kondusif bagi produsen, yang ditunjukan oleh tingkat harga yang relatif tinggi. Hal tersebut dikarenakan permintaan yang terus meningkat, terutama dari China, India, Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia- Pasifik. Menurut IRSG, dalam studi Rubber Eco-Project (2005), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam dalam dua dekade ke depan. Karena itu pada kurun waktu 2006-2025, diperkirakan harga karet alam akan stabil sekitar US $ 2.00/kg. Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi global tahun 2006 dan 2007 diperkirakan masih cukup baik, hal tersebut dapat terjadi jika kenaikan harga minyak bumi, inflasi dan kenaikan suku bunga tidak meperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang masih tetap merupakan lokomotif ekonomi dunia. Perkembangan ekonomi global tentunya akan mempengaruhi permintaan karet alam dan selanjutnya akan mempengaruhi harga. Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8.74 juta ton (pertumbuhan 5.1%), sementara itu produksi hanya sebesar 8.68 juta ton (pertumbuhan 0.4%). Harga karet alam masih tetap mempunyai tendensi menaik pada periode semester ke dua tahun 2006, hal tersebut dikarenakan permintaan masih lebih besar dari penawaran dan pertumbuhan ekonomi global, terutama China, Amerika Serikat dan Jepang masih ”firm and modest”. Jika ”investment fund” dan spekulator melakukan aksi ”profit taking” pada pasar berjangka karet alam (TOCOM), maka akan terjadi lonjakan naik-turun harga karet alam yang relatif cukup besar. Harga karet alam yang relatif tinggi saat ini harus dijadikan momentum bagi Indonesia, untuk mendorong percepatan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pengambangan agribisnis karet di Indonesia perlu dilakukan dengan cermat dengan melalui perencanaan dan persiapan yang matang, antara lain dengan penyedian kredit peremajaan yang layak untuk karet rakyat, penyedian bahan tanam karet klon unggul dengan persiapan 1-1,5 tahun sebelumnya, pola kemitraan peremajaan, aspek produksi, pengolahan dan pemasaran dengan perkebunan besar negara/swasta. Pada tingkat kebijakan nasional perlu adanya lembaga (dewan komoditas/karet) yang membantu pengembangan industri karet di Indonesia dalam semua aspek, mulai dari produksi, pengolahan bahan baku, industri produk karet, serta pemasaran karet dan produk karet. Pada tingkat implementasi perlu organisasi pelaksana yang kompeten dan aturan main yang jelas, dalam hal ini tentunya juga terkait dengan adanya otonomi daerah dan perlunya partsipasi/komitmen yang kuat dari petani/pekebun karet.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1       Perkembangan Karet Alam

Karet merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia seharihari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan. Secara fundamental harga karet alam dipengaruhi oleh permintaan (konsumsi) dan penawaran (produksi) serta stock/cadangan, dan masingmasing faktor tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang terlihat pada Gambar 1.

2.2       Pertumbuhan Konsumsi Karet Alam

Konsumsi karet alam dunia dalam dua dekade terakhir meningkat secara drastis, walaupun terjadi resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980-an dan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997/1998. Selama tahun 1980-2005 konsumsi karet alam mengalami pertumbuhan yang menurun dan stagnan di Eropa, dan di Jepang pada periode 1990 juga stagnan, akan tetapi terjadi pertumbuhan yang tinggi seperti China dan negara berkembang lainnya (IRSG, 2004a). Gambaran keseluruhan mengenai perkembangan konsumsi karet alam untuk tahun 1980 – 2005 dapat dilihat pada Tabel 1

Sumber: Anwar (2005).

Gambar 1. Faktor-faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Karet Alam

Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir, terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang relatif stagnan. Menurut International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan. Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear dan Michelin. Sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035. Hasil studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam. Produksi karet alam pada tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% danMalaysia -2%. Pertumbuhan produksi Indonesia ini dapat dicapai melalui peremajaan atau penaman baru karet yang cukup luas, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta ton.

2.3       Pertumbuhan Produksi Karet Alam

Penawaran karet alam dunia meningkat lebih dari tiga persen per tahun dalam dua dekade terakhir, dimana mencapai 8.81 juta ton pada tahun 2005 (Tabel 2). Pertumbuhan tersebut berasal dari negara produsen Thailand, Indonesia, Malaysia, India, China dan lainnya. Produksi karet Thailand menjadi dua kali lipat selama periode 1980-1990 dan 1990-2000. Juga India dan China pada periode yang sama akan tetapi negara tersebut masih sebagai net importer untuk karet alam. Malaysia sejak tahun 1991 tidak lagi menjadi produsen utama karet alam dunia tetapi digeser oleh Thailand, sementara itu Indonesia tetap sebagai negara produsen kedua. Thailand memproduksi lebih dari 33% karet alam dunia pada tahun 2005, sementara Indonesia dengan pangsa produksi 26% dan Malaysia tinggal 13%.

2.4       Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Karet Alam Dunia

Bedasarkan data IRSG (2004a), ketakseimbangan (imbalance) penawaran dan permintaan karet alam mulai terlihat sejak tahun 1900-an (surplus/defisit dari penawaran karet alam), dan berpengaruh terhadap cadangan (stock) karet alam dunia. Secara teoritis, harga diharapkan akan bereaksi dengan ketakseimbangan penawaran dan permintaan. Dimana kenaikan harga terjadi karena defisit penawaran dan turunnya harga karena surplus penawaran, akan tetapi hipotesis tersebut tidak didukung kenyataan di lapangan seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2. Hal tersebut tentunya akan menyulitkan bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan. Menurut Ng (1986), tidak berpengaruhnya surplus/defisit pasokan dan cadangan terhadap harga karet dunia, disebabkan oleh adanya imperfect knowledge terhadap penawaran dan permintaan global karet alam pada waktu tertentu (adanya senjang waktu karena masalah akses informasi) serta adanya kegiatan spekulasi dan hedging pada kegiatan pemasaran karet alam dunia seperti forward purchase, future contract, longterm arrangement, dan sebagainya.

Gambar 2 . Keseimbangan Penawaran dan Permintaan (Balance), Cadangan(Stock), dan Harga Karet Alam, Tahun 1975 – 2004

2.5       Perkembangan Harga Karet Alam

Karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya relatif lebih stabil dibandingkan dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik yang umumnya diproduksi dan dikonsumsi negara industri, harganya cenderung naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari negara produsen. Hal ini sangat berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim), nilai tukar dan perkembangan ekonomi negara konsumen. Untuk menghindari kerugian karena gejolak harga karet alam, pasar berjangka (future trading) karet menyediakan sarana dan mekanisme lindung nilai (hedging). Pasar berjangka karet alam yang saat ini menjadi panutan/pedoman dunia adalah Singapura (SICOM) dan Jepang (TOCOM), serta yang relatif baru di Thailand (AFET) dan China (SHFE). Sedangkan pasar fisik (physical/spot) karet alam, selain di Singapura dan Jepang juga terdapat di negara produsen seperti Malaysia dan Thailand serta di negara-negara konsumen seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Dari 35 mutu karet alam yang diperdagangkan dunia secara fisik, hanya tiga mutu (RSS 1, RSS 3, TSR 20) yang dijadikan mata dagangan di pasar berjangka karet. Pasar atau bursa berjangka disebut juga pasar yang terorganisasi dan harga penyerahan hingga 12 bulan ke depan yang terbentuk disebarluaskan. Pada pasar fisik umumnya hanya harga hingga penyerahan tiga bulan kedepan yang terbentuk (BPEN, 2003). Pada pasar karet global, Singapura dan Kuala Lumpur dikenal sebagai pasar dari kawasan produsen. Sementara itu London, New York dan Tokyo sebagai pasar dari kawasan konsumen. Karena perbedaan waktu antara Tokyo (Jepang) dengan negara-negara produsen utama karet hanya sekitar 1- 2 jam, sehingga pasar dari dua kawasan tersebut memperlihatkan pergerakan yang sama. Jepang (Tokyo dan Osaka) sebagai salah satu negara konsumen utama karet alam, kadang-kadang menstimulasi pasar di negara konsumen (Yoko, 2004). Beberapa faktor yang mempengaruhi tren harga karet alam adalah: pasar luar negeri, permintaan dan penawaran (ekspor dan cadangan), situasi politik dan ekonomi internasional, tren nilai tukar, harga karet sintetik (harga SBR dan harga minyak bumi), pertumbuhan ekonomi global (konsumen utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan China) dan industri otomotif. Walaupun relatif kecil, harga karet sintetik juga cenderung fluktuatif seperti karet alam (Gambar 3). Sebelum tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dan inflasi, setelah tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan harga minyak mentah. Isu utama yang berhubungan dengan industri karet sintetik adalah harga minyak mentah, dan dampaknya terhadap harga dan permintaan karet sintetik. Menurut IRSG (2004b), apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga minyak mentah maka dampaknya terhadap industri hilir pada pasar petrokimia, dalam hal ini adalah pasar butadiene dan stryrene, dan dampak tersebut baru terlihat 2-3 bulan kemudian.

Gambar 3. Hubungan Antara Harga Karet Alam dan Sintetik dengan Harga Minyak Mentah, Tahun 1975-2003

Pada Gambar 3 terlihat bahwa pada tahun 1979-1980 dan 1984-1986, harga karet alam lebih tinggi 10-20% daripada harga karet sintetik SBR (Styrene Butadiene Rubber). Akan tetapi pada tahun-tahun lainnya harga karet alam didiskon lebih rendah daripada harga SBR sebagai refleksi tekanan yang dialami oleh kondisi pasar karet alam. Perbedaan harga antara karet alam dengan karet sintetik menjadi faktor kunci yang mempengaruhi substitusi antara keduanya, disamping besarnya tingkat cadangan yang tersedia. Menurut Honggokusumo, cadangan yang dipunyai pabrik ban (afloat stock) dan kualitas ban akan mempunyai peran yang besar pada keputusan perusahaan apakah memakai lebih besar karet alam atau karet sintetik (IRSG, 2004b). Menurut Budiman (2004), permintaan karet sintetik akan terus tumbuh didorong oleh perkembangan industri automotif dan ban di China. Karet sintetik yang dominan digunakan oleh industri ban adalah SBR dan BR. Seperti halnya karet alam, secara ekonomi karet sintetik adalah derived demand dari permintaan ban, dimana dari sisi pasokan diturunkan dari monomernya atau cadangan dari styrene dan butadiene. Lebih lanjut dikatakan, secara ekonomi permintaan karet alam dan sintetik ditentukan oleh kondisi sekarang dan perkembangan ke depan dari industri otomotif. Dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan peningkatan standar kehidupan dari negara-negara yang padat penduduknya, maka permintaan semua jenis ban akan meningkat di masa yang akan datang. Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet mencapai harga US$ 1.00/kg, dan sampai sekarang ini telah mencapai US$ 2.20/kg untuk harga SIR 20 di SICOM Singapura. Diperkirakan harga akan stabil sekitar US$ 2.00 pada tahun 2007 dan pada jangka panjang sampai 2020, dikarenakan permintaan yang terus meningkat terutama dari China, India, Brazil, Rusia dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik.

2.6          Perkembangan Pasar Karet Alam

Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8,74 juta ton (meningkat 0.4%) dan karet sintetik sebesar 11.97 juta ton (menurun 0.5%), sehingga pangsa karet sintetik menurun sebesar 1% menjadi 57.7% dibandingkan karet alam. Konsumsi karet dunia diperkirakan akan tumbuh sebesar 3.2% mencapai 21.33 juta ton pada tahun 2006, dan pada tahun 2007 tumbuh 6.3% mencapai 22.64 juta ton. Tingginya harga karet alam relatif terhadap harga karet sintetik mungkin akan menyebabkan substitusi dalam jumlah tertentu dan perumbuhan pasar karet sintetik yang lebih cepat. Produksi karet alam diperkirakan akan tumbuh sebesar 4.4% pada tahun 2006 dan 6.2% pada tahun 2007, sementara karet sintetik akan tumbuh sebesar 4.7% dan 4.6% pada tahun yang sama. Pada semester ke dua tahun 2006, harga karet alam diperkirakan akan bertahan sekitar US $ 2.00/kg, jika berdasarkan faktor-faktor fundamental (permintaan dan penawaran) yang mendorong pasar. Sementara itu jika investment fund dan spekulator masuk ke pasar berjangka (TOCOM) untuk profit taking maka akan terjadi lonjakan harga, seperti yang terjadi pada periode 18 Februari 2006 dimana harga RSS3 adalahsebesar Ұ 263.1/kg (US $ 2.15/kg) dan pada tanggal 13 Juni 2006 harga melonjak menjadi Ұ 323.9/kg (US $ 2.80/kg). Hal tersebut disebabkan terjadi peningkatan opent interest pada future trading di TOCOM menjadi sebesar101128 lots (pada tanggal 18/Feb, biasanya dibawah 50000 lots), dan pada tanggal 13 juni 2006 opent interest kembali menurun menjadi 57298 lots . Hal ini menunjukan adanya profit taking, yang selanjutnya akan menyebabkan harga kembali turun menuju tingkat dimana investment fund mulai masuk (neutral condition) (Moenardji Soedargo, 2006).

2.7          Prospek Agribisnis Karet Di Indonesia

Harga karet alam yang membaik saat ini harus dijadikan momentum yang mampu mendorong percepatan pembenahan dan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 3 – 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila areal kebun karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan menggunakan klon karet unggul secara berkesinambungan.

a. Klon-klon Karet Rekomendasi

Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klonklon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya. Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan dihasilkan. Klon-klon lama yang sudah dilepas yaitu GT 1, AVROS 2037, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, RRIC 100 masih memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati baik dalam penempatan lokasi maupun system pengelolaannya. Klon GT 1 dan RRIM 600 di berbagai lokasi dilaporkan mengalami gangguan penyakit daun Colletotrichum dan Corynespora. Sedangkan klon BPM 1, PR 255, PR 261 memiliki masalah dengan mutu lateks sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok untuk jenis produk karet tertentu. Klon PB 260 sangat peka terhadap kekeringan alur sadap dan gangguan angin dan kemarau panjang, karena itu pengelolaanya harus dilakukan secara tepat. Potensi produksi lateks beberapa klon anjuran yang sudah dilepas disajikan pada Gambar 4.

2.8          Pengembangan Agribisnis Karet di Indonesia

Dengan kondisi harga karet sekarang ini yang cukup tinggi, maka momen tersebut perlu dimanfaatkan dengan melakukan percepatan peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon-klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani.

Strategi di tingkat on-farm yang diperlukan adalah :

(a) penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi (2-3 ton/ha/th);

(b) percepatan peremajaan karet tua seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan 1,2 juta ha sampai dengan 2025;

(c) diversifikasi usahatani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan ternak; dan

(d) peningkatan efisiensi usahatani.

Sedangkan ditingkat off-farm adalah :

(a) peningkatan kualitas bokar berdasarkan SNI;

(b) peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani;

(c) penyediaan kredit untuk peremajaan, pengolahan dan pemasaran bersama;

(d) pengembangan infrastruktur;

(e) peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir; dan

(f) peningkatan pendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran.

BAB 3

KESIMPULAN

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006).

Perkembangan pasar karet alam dalam kurun waktu tiga tahun terakhir relative kondusif bagi produsen, yang ditunjukan oleh tingkat harga yang relatif tinggi. Hal tersebut dikarenakan permintaan yang terus meningkat, terutama dari China, India, Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia- Pasifik.

Perkembangan ekonomi global tentunya akan mempengaruhi permintaan karet alam dan selanjutnya akan mempengaruhi harga.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C. 2005. Prospek Karet Alam Indonesia di Pasar Internasional: Suatu Analisis Integrasi Pasar dan Keragaan Ekspor. Disertasi Doktor. SekolahPascasarjana,  Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Balai Penelitian Sembawa, 1996. Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat (edisi ke-2). Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.

Balai Penelitian Sembawa, 2005. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat

Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang

About bondaneddyana

Menyukai membuat laporan, presentasi kegiatan atau laporan, penghitungan data - data

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: